Make Widget

Dari Blog Tetangga, inspiratif tentang seorang istri

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

Aku terpaksa menikahinya....

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

dear Reader,
today might be the still same with another day, which is am still looking much more opportunity.

i am dreaming to be rich,
i am dreaming to be smart and clever
i am dreaming about living together with my wife and building a new happy family.

and now,
i wish i awake to do all of it, i felt am still sleeping. all my dream is about in the far-far away place, i do whatever it is to make a different into my life.

this is my dream,
and i will awake to make it happen.

Dear God, give me more strength!!! i know this life is hard, and i am hope i can get through it soon.

this is my letter to you all man kind in the world
if they ask you to pick one of those choice, which one you chosen and why?

Rules make to be broken but if only you know why!!!

About My Research

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

Dear Reader,
(pretending there's someone read this)

there's a lot of things in my mind, worried and what should i call it. its more about don't know what to do. i tell you i have a lot things to be done, but i don't know where to start, people said start with the easy one's. but why its seems so hard, am i a lazy person or something wrong with me...

whats wrong with me?
hey... did you know if i get married 6 month ago? does anyone notes about it?

hahahahaha... i don't think so.

then what you want me to tell you?
i think you guys is boring read my story, why don't you tell me a story... anything!!!
about what you see this morning? or about what you looking at your panther... what you want to share about?

this is me,
am reporting directly from my heart, where's everything is happen

i am struggling looking for a Job in KL

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

is someone out there?

am gonna need more than luck, i will not stop!!!
i'll tell you if i get a job.

wish me luck and get what i want...

alhamdulillah

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

masih bisa menulis,

mau nulis tentang bersyukur, tapi masih belum tau bagaimana mengungkapkan rasa bersyukur itu bagaimana.

ataukah dengan tidak meminta dan terus berusaha itu bisa disebut bersyukur

ataukah dengan tidak mengeluh dan tetap berfikir positif itu juga bisa disebut bersyukur

yang mana yang benar? atau semua benar?
yang menjadi kebingungan ku bukan pada ke-2 pilihan itu. tetapi pada orang yang berfikir kalau dia nggak punya pilihan....

Dapat dari Sites ” Pengakuan Jujur Anak Malaysia Terhadap Indonesia”

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

Saudara-saudaraku setanah air.Ini sekedar sharing jer. Tadak maksud apapun.. Kita mungkin sedikit perlu berempati kepada negara kita ni yang nyaris tak punya identitas.

Setelah diteliti lebih jauh ternyata forumers Malaysiaku tidak pernah berfikir panjang apa yang akan dia orang tulis,seperti:

1. Dia orang mengatakan bahwa Indonesia tidak kreatif dan mengambil budaya malaysia, nyatanya. semua budaya dan lagu Indonesia telah nyata2 kita claim (batik: kita bilang batik malaysia padahal batik hanya ada satu yaitu dari Indonesia dan kualitasnya jauh lebih baik;Reog: kita hanya mengubah nama saja menjadi barongan padahal semua itu sama saja dengan reog,dll). Tidakkah itu tindakan yang salah.

2. Kita Orang kata lagu Indonesia jelek. Kenapa kita tak bisa terima kenyataan bahwa di malaysia ramai yang disukai adalah lagu2 Indonesia. Peringkat pertama Top hits di salah satu stesen radio malaysia adalah PETERPAN. Malahan lagu daerah di Indonesia kita claim. (Rasa Sayange).

3. Kita orang kata bendera dan lambang garuda Indonesia menjiplak dari Polandia, Monaco, sedangkan kita orang pun tak tau sejarah bendera Indonesia, dan kita tak tau bahwa di dunia ini ramai negara yang memiliki lambang garuda. Sedangkan bendera kita persis sama dengan Amerika hanya beda di bulan dan mataharinya saja. Tidakkah seharusnya kita sedar diri.

4. Ramai kita kata orang Indonesia bodoh2 hampir disetiap forum di negara kita ni, saya kerap melihat kata2 dr forumer yg berbunyi: indon bodoh blalala. Macam mana dengan kita..? Nama pelajar malaysia pun tidak pernah terdengar di peringkat pertama di olimpiade sains international. sedangkan indonesia, hampir setiap tahun putra-putri indonesia menang dalam olimpiade internasional bahkan sering mendapat medali emas. Dan tidakkah kita tau bahwa dokter2 Indonesia selalu menjadi guru besar dan mengajari dokter2 malaysia di negara kita ni.

5. Salah satu dari forum yang kita tulis bahwa kita bangga dijajah England. Dan kemerdekaan kita hanyalah pemberian semata dan bukan merupakan hasil perjuangan.
Baca kutipan dari Majalah Time di tahun 1957 tentang kemerdekaan Negara kita.ya :

“The Malayans .. though the curiously un-enthusiastic calm with which they received their independence was attributed by British residents to the fact that it was ‘handed to them on a platter.’”

Warga negara kita tidak puas karena kemerdekaannya seperti diberi oleh kerajaan Inggris. Time Magazine, “Malaya, A New Nation”.

Indonesia lahir dan jadi bangsa besar di dunia dengan cara yang heroik, mengusir bangsa-bangsa imperialis terbesar dunia, Belanda, Inggris, Jepang. Sukarno, Hatta, Jenderal Sudirman, Bung Tomo ,sejarah Indonesia penuh dengan pahlawan-pahlawan besar.

6. Kita orang kata Indonesia pencuri, padahal dalam kenyataanya bahwa kitalah yang pencuri (Ambalat,illegal-logging,dll).

7. Ketergantungan kita Pada Indonesia.
Ekonomi kita tergantung dengan Indonesia. Meskipun TKI cuma kuli kasar, ekonomi kita akan langsung jatoh kalau mereka tak ada.

8. Kita tak sedar, tak tau bahwa di negara kita banyak tenaga pengajar yang dari Indonesia sedangkan tenaga pengajar malaysia tidak laku di Indonesia.

9. Kita bangga dengan kekuatan militer kita karena kita tidak tahu apa2. Indonesia masuk 13 besar forces terkuat didunia sedangkan malaysia masih dibawah 60!Dan dia orang (Indonesia) selalu menjadi forces inti dari pasukan PBB International.

++ sesungguhnya masih banyak lagi kelebihan Indonesia dari malaysia hanya saja kita selalu membantah dan tidak mau menerima kenyataan ini.
(sumber: buku,internet,dll)

Aku budak johor.. Dah lama tinggal di indonesia.. Maka tu bahasa dah campur pun..

Found Last Night

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

Short Story: They Say I'm Fat
Cerpen: Mereka Bilang Aku Gendut

Aku nggak tahu apa salahku. Aku ngerasa belakangan ini dietku udah cukup ketat kok. Tapi kenapa sih sang pipi ini tetep juga melar. Mana orang-orang yang ngeliatnya pada pengen nyubitin lagi. Bikin tambah sebel. Pokoknya sebel… sebel… sebel… Sebeel banget. Apa salahku? Hix…hix…Apa jangan-jangan salah dari turunan gen-gen ayahanda dan ibunda tercinta yah yang bikin pipiku tembem begini. Gak juga ah. Mereka gak gendut kok.

I don't know what my fault is. I feel that these days I have been keeping my diet pretty tight. But how come this my dear cheek is still stretchy. And a lot of people who take a look at it want to pinch it. It makes me more resentful. It is resentful... resentful... resentful... Veeeery resentful. What is my fault? Weep... Weep... did the fault come from the descendant from my beloved father and mother that makes my cheek really puffed-up. I don't think so. They are not fat either.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi kok malang juga yah nasibku.
Aku ingat betul ketika aku masih kecil. Kira-kira seumuran lima tahun lah; saudara-saudaraku datang ke rumah. Dan mereka semua lantas begitu bahagia melihat wajahku. Bukannya apa-apa dan kenapa-napa. Mereka seperti dapet mainan baru.
Mainan apa? Apalagi kalau bukan pipiku yang menggemaskan ini. Dicubit pipi kiri, dicubit pipi kanan. Mereka sih seneng-seneng aja. Ketawa ketiwi. Nggak tahu apa bahwa yang empunya pipi ini merasakan sebuah derita lahir dan batin. Perih di pipi, perih pula di hati. Sampe akhirnya aku menangis… Huaaaaa. Mereka baru berhenti. Ganti mengelus-elus
"Cup cup anak manis jangan nangis dong."

But if I really think about it again my fate was really unfortunate.
I remembered truely when I was still small. Approximately when I was five years old; my relatives came to my house. And all of them then were so happy to see my face. Not anything and and not anywhy. They seemed like they got a new toy.
What toy? What else if not my cheek that passionated them. They pinched the left cheek, then pinched the right cheek. They were so very happy then. Laugh laugh. They did not know that the owner of this cheek felt a suffering on both the body and heart. Pain on the cheek, pain also in the heart. Until the end I cried… Huaaaaa. Only then they stopped, changed to caressing.
"Choop choop the sweet child should not cry please."

Lebih parah lagi waktu aku SMA, aku inget banget ada temanku bernama Rudi. Anak yang menurut pandanganku termasuk paling badung satu sekolahan. Emang sih secara umum anaknya baik, gak ngerokok, taat aturan sekolah bahkan Pancasila dan UUD’45, gak pernah bolos, lumayan pinter dan berprestasi pula. Lha terus kenapa kok aku anggep badung? Ya itu tuh. Dia paling demen cubitin pipiku. Aku ngelamun dikit dicubit. Aku lengah dikit dicubit. Mana cubitannya konsekutif dan konsekuen lagi. Setiap hari. Sehari tiga kali. Sehabis makan dan sebelum tidur ( kok kaya minum obat aja yah ). Yaah pokoknya pada intinya sering banget deh.

It was more serious when I was in SENIOR HIGH SCHOOL, I remember truely that I had a friend named Rudi. A child that according to my view is one of the naughtiest on the school. It is indeed generally the child was good, not smoking, obeyed the school rule and even the national ideology and national law, never skipped class even once, moderately clever and high-achieving also. Well then why how come I said that he is naughty? Yes, because of that. He liked to pinch my cheek very much. If I daydream a little I was pinched. When I was careless a little I was pinched. His pinches were consecutive and consistent. Every day. Three times a day. After eating and before sleeping (how come it looks like taking medicine?). Yeah no matter what it was really often.

Aku pikir sih ketika masuk kuliah pengalaman-pengalaman memilukan itu akan berakhir. Apalagi kan aku masuk ke univ yang cukup ternama. Ehem… ehem… Aku yakin deh, anaknya pasti pinter-pinter, baik-baik, dan alim-alim. Uuuh tapi kenyataan tak seindah impian. Temen-temen disini masih aja suka ngeledekin aku gendut. Masih juga jahil-jahil. Untungnya sih gak ada lagi yang suka nyubit-nyubit pipi ini. Hahaha.
Maklumlah soalnya kan aku udah beri larangan keras bagi siapapun. Termasuk sahabat-sahabat dekat. Mengagumi boleh tapi tak boleh menyentuh. Apalagi mencubit. Dilarang keras. Verboden. Tiba-tiba….

I thought when I went to university, the sympathetic experiences will end. Moreover I entered to a university that was famous enough.
Ehem… ehem… I was convinced, the students were definitely very clever, well, and very devout. Ugh ugh but the reality was not as beautiful as the dream. Friends here still liked to tease that I was fat. Still were also very rascal. Fortunately there was no one that liked to pinch this cheek. Hahaha. They understand that in this matter I have given them a ban for everyone. Including close friends. They might admire me but it is not allowed to touch me. Not even pinch. Banned hard. Verboden. And suddenly….

Buk!
"Adaw… "
"Pagi Gina," sapa si Yanti dari belakang dengan senyumnya yang cerah. Tanpa rasa bersalah atau berdosa seikitpun.
Duh… duh.. aduuuh…
"Kenapa, aku mukul terlalu keras yah?"
"Masih nanya lagi. Sakit tauk."
"Maap deh maap. Abis kamu juga lagian. Pagi-pagi gini udah ngelamun. Mikirin sapa tuh? Si uhuy yah…"
"Idiiih… thanks yo. Gak ada istilah uhuy-uhuyan dalam kamus gw.. "
"Yah elah pake sok-sokan."

Bam!
"Ouch..."
"Morning, Gina," Yanti greets me with his bright smile. Without any feeling of guilty or sinful.
Ouch.. ouch... a-ouch..
"Why, did I hit you very hard?"
"No question asked. Very painful you know!"
"Sorry, sorry. It is your fault anyway. Even on a morning you were daydreaming. Who were you thinking about? The Uhuy guy?"
"Oh no!!!!, very thanks to you. No meaning of Uhuy in my dictionary.."
"How come you are putting on airs."

Sebenernya si uhuy yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah Gunawan, seorang cowo yang juga sejurusan dengan mereka. Sebenernya sih tuh cowo biasa aja. Bener-bener biasa deh. Semuanya biasa. Rambut biasa, mata biasa, wajah biasa, senyum biasa, pinternya juga biasa. Cuma satu yang luar biasa ..... garingnya luar biasa. Kadang2 sih aku suka sempet sebel dibuatnya. Tapi di satu sisi dia bisa ngertiin aku apa adanya. Jadi hati ini gak jadi sebel lagi deh. Jadi luluh, adem ayem deh dibuatnya.

In fact the Uhuy meant actually is Gunawan, a person that is also in the same course with them. In fact the boy is a normal boy. Very truly normal. All are normal. Normal hair, normal eyes, normal face, normal smile, the cleverness is also normal. Only one is extraordinary.... His lameness is extraordinary. Sometimes I am resentful because of him. But on one hand he can accept me the way I am. So this heart become not resentful again. I am crushed, cool and calm because of him.

Belakangan ini si Gunawan itu emang lagi deket ama aku. Gak tahu juga deh kenapa bisa begitu. Sehingga mulailah beredar kabar-kabar tidak sedap di kalangan mahasiswa. Isu-isu dan gossip yang tak jelas dari mana asal mulanya. Parah deh. Padahal bener deh aku dan si Gunawan itu cuma temen biasa. Ndak ada apa-apa, ataupun gimana-gimana. Sueer….

In recent times the Gunawan guy is actually very close to me. I don't know why could be like that. So not-nice news are beginning to circulate in between students. Rumours and unclear gossips which I don't know where are their origin at first. Seriously. In fact it is true that I and the Gunawan guy are only normal friends. Nothing happened, or whatever it is. I swear...

Masalahnya kekuatan gossip itu uda lebih kuat. Jadilah malah tuh cowo bisa sampe dapet titel uhuy. Sebagai info, sebenarnya kata uhuy itu dianugrahkan sebagai kata ganti orang ketiga tunggal bagi orang yang lagi dalam proses PDKT. Nah, sebutan kata uhuy untuknya menandakan dia lagi PDKT ama aku. Apa bener sih begitu? Mana aku tahu… dan lagian mana aku tempe?

The problem is that gossip power even much stronger. Therefore, that guy even get title: uhuy. For your information, uhuy is stated for a third singular person representative on a guy which is in "approaching" process. So, the uhuy statement show that he is in process of approaching me. Is it true? Who knows?

Kalo emang bener begitu rasanya sih gak sepenuhnya bener deh. Coba aja lihat tingkahnya. Dia toh kayanya emang bergaul dengan cara yang serupa dengan segala macem temen cewenya. Kadang-kadang rada usil pula. Ah, dasar laki-laki. Untung dia gak suka usilin aku dengan pipiku yang menggemaskan ini. Kalo gak bisa sudah hancur berkeping-keping persahabatan yang aku bangun dengannya selama ini.

I think it’s not necessarily true. Look at his behavior. He talk and behave in the same way with all his friends (girl). Sometimes, a bit naughty. Ah, damn guy. Fortunately, he doesn’t like to pinch my cheek, otherwise our good relationship which is maintained so far will be destroyed.

Tapi aku toh cuek-cuek aja ah. Dia toh juga sering cuek ama aku. Emang sih kadang-kadang jadi perhatiaaan buanget, tapi kadang-kadang cuek juga. Aku bingung deh. Kata temen-temen sih sebenernya dia itu suka sama aku. Kalo di sinetron-sinetron remaja masa kini sih disebutnya jatuh cinta githu.

However, I just don't ignore. He also does the same thing to me. Sometimes, reaallyyyy care, sometimes he is ignorant. I’m confused. My friends said that he likes me. In teenagers telenovela, it is said as fall in love.

Yah kalo emang bener githu sih ya ga pa pa. Soalnya, benernya aku juga lumayan simpatik kok sama dia. Ramah, baik, perhatian. Yah meski emang garingnya parah sih. Tapi okelah. Yang paling penting. Ia gak suka ngatain aku gendut. Dan gak suka nyubitin pipi.

If it is true, it’s ok for me. Coz actually I also quite put a symphaty to him. He is cheerful, kind, caring. Even though he is lame. Sooo lame. But it’s ok. The most important thing, he doesn’t say I am fat, and he doesn’t pinch my cheek.

Suatu ketika Gunawan mengajakku makan siang bareng. Yah, aku sih oke oke aja. Kenapa tidak? Sekalian kan aku bisa pinjem catetan lecturenya kemaren. Maklumlah kemaren aku ketiduran. Lagi kebanyakan pikiran. Cieeh kayak orang penting aja. Hohoho….
Kami duduk, diam, dan tenang. Sebelum kami sempet order makanan, Gun mulai membuka pembicaraan lebih awal….

One day, Gunawan ask me to have lunch together. I am ok to his offer. Why not? I can also borrow his lecture note for yesterday lesson. I was sleeping in lecture theatre yesterday. So many think and stuff… Like a businessman you know. Hohohoho...
We sit, be quiet, and calm. Before we order the food, Gun starts to speak:

"Gina, aku tahu pipimu tembem."
"Grrr, apaan sih. Terus kenapa?"
Aku sebel. Aku pikir dia bener-bener ngertiin aku, ternyata dia juga bilang aku gendut. Tidaaak… Kenapa mesti ada satu orang lagi yang mesti mengungkapkan “fakta" itu kepadaku.
"Banyak orang bilang pipi tembem itu gak begitu bagus."
"Iyah, aku emang jelek, " kataku cemberut. Sensi.
"Tapi…. " kata Gun lagi…
"Tapi apa?! seruakku dengan sewot…. Sebel sebel…
"Ups, kamu marah ya?" Tanya Gun dengan muka melas nan memprihatinkan. Ngeliat mukanya aku pun luluh.
"Nda... nda pa pa. Kenapa sih Gun?"jawabku dengan rileks
"Tapi, tapi… aku… aku mau ngomong sesuatu ama kamu Gin. Penting.." kata Gun sambil menundukkan wajahnya. Entah dia malu atau takut... atau sungkan?

"Gin, I know your cheek is stretchy."
"Grrr, so what?"
I am angry. I think he really can understand me. But he also said I am fat. Nooo, why must there be one more person who reveal that “fact" to me?
"Many people said that stretchy cheek is not so good."
"Yeah, I am ugly," I said frownly. Sensitive.
"But…" Gun says again.
"But what?’ I say angrily. Resentful… resentful.
"Ups, are you angry? Gun asked melancholicly. Seeing his face, I melt.
"nooo… no problem? What’s wrong, Gun?" I ask relaxly.
"but… I… I want to say something to you Gin. Important," Gun said bowing down his face. Either he is shy or scary?

Deg! Jantungku berdegup kencang. Dan makin lama makin kencang. Aku ndak tahu perasaan aneh apa yang ada pada diriku sekarang. Aaaargh mana mungkin. Mana mungkin. Darahku berdesir makin kencang. Dag dig dug. Kenapa dengan diriku? Masa Gun bisa membuat aku begini?

Deg! My heart beats very fast. And become faster and faster. Aaargh impossible. Impossible. My blood flows quicker. What’s wrong with me? Why can Gun make me like that?

Ia melanjutkan kata-katanya… masih dengan terbata-bata…
"Aku…. aku…"
"Apa?"
"Boleh gak Gin aku?"

He continues his statement… still with tremble…
"I…. I…"
"What?"
"Gin, could I...?"

Pikiranku makin melayang nda karu2an. Sampai2 aku lupa kalo tujuan awal ke kantin ini adalah untuk makan siang. Hmmm, apa mungkin sih kata teman2nya selama ini benar? Gun selama ini diam2…. aaargh, wajahku memerah, tapi aku nda mau Gun tahu. Kalo sebenernya... Jangan dulu. Aku tundukkan wajahku. Rasanya ia akan mengatakan kata itu. Ya pasti ia akan mengatakan kata itu…
.
.
.

My thought flies away. I almost forget that I go here to have lunch. Is it true that his friends gossip about Gun is true? Gun so far… without any words… Arrgh… my face turn red, but I don’t want Gun knows. That the truth… Don’t
I bow down my face. I feel that he will say that word. Ya confirmed that he will say that word...
.
.
.

"Gin, aku….. boleh pinjem duit dulu nda? Duitku habis. "

"Gin, could I borrow your money? I don’t have anything left."

am not the only one

Posted by Nanko-Nanda kurniawan

kalau aku bilang aku nggak punya duit, aku butuh duit, aku mau duit dan semua tentang duit. tentu sepertinya semua orang begitu, meskipun beberapa yang sudah mempunyai cukup duit akan bilang tentang hal lain. yang jelas tidak tentang duit.

menulis membuat ku melupakan istilah butuh duit